Pages

Subscribe:

Senin, 14 Juni 2010

Memberi Nama Yang Baik Untuk Anak Kita

"Salah satu hak anak adalah mempunyai nama yang baik. Hak ini merupakan tanggung jawab orangtua untuk memenuhinya. Sepatutnya orangtua serius memperhatikan masalah ini, sehingga pemberian nama kepada anak tidak hanya memperhatikan trendi-tidaknya, ngepas tidaknya di telinga, pokoke aneh, dan sejenisnya. Terkadang kita mendengar nama anak-anak yang tidak jelas maknanya, terkesan kurang memperhatikan substansi baik-buruk dari nama itu, bahkan menantang nilai dan norma."


Dalam buku Serpihan Kasih untuk Si Buah Hati karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah (2000), diungkapkan nama-nama yang dianjurkan bahkan semestinya diberikan pada anak serta nama-nama yang tidak dianjurkan atau tidak sepatutnya. (Walaupun disayangkan dalam penerjemahannya, yaitu hanya mencantumkan bahasa Arab dan tidak ada terjemahan Indonesianaya). Dalam tulisan ini ada beberapa hal yang patut kita bahas berkaitan dengan topik ini, yaitu (a) nama-nama yang baik yang semestinya diberikan kepada anak-anak, (b) nama-nama yang tidak semestinya diberikan kepada anak, (c) dampak psikologis dari penggunaan nama-nama itu, (d) kemungkinan penggantian nama.


Nama-nama Baik yang Dianjurkan

Nama-nama yang direkomendasikan untuk kita gunakan sebagai nama anak-anak kita adalah (a) nama-nama yang menunjukkan penghambaan makhluk atas Allah Azza wa jalla, seperti Abdullah (hamba Allah), Abdurrahman (hamba Sang Pengasih), (b) nama-nama Nabi, (c) nama-nama yang memiliki arti atau gambaran positif, baik, optimistik, kegembiraan, dst seperti Harits (yang memahami masalah), Hammam (pemberani), al-Mundzir (yang elok rupanya). Nama-nama baik dalam bahasa lain tentu dianjurkan, seperti Tulus, Teguh, Kukuh, dan seterusnya.

Dikarenakan namanya baik, maka Halimatus Sa’diyah diterima dengan senang hati oleh keluarga Bani Hasyim untuk menyusui bayi Muhammad. Mari kita perhatikan dialog antara Abdul Muthalib bin Hasyim dan Halimatus Sa’diyah.


“Siapakah kamu ini?” tanya Abdul Muthalib.
“Seorang wanita Bani Sa’d,” jawab Halimah.
“Siapa namamu?” tanya kakek Muhammad.
“Halimatus-Sa’diyah!
“Bagus, bagus … Sa’d (keberuntungan), Halimah (kemurahan hati) merupakan pasangan yang di dalamnya terdapat senandung indah kehidupan.”

Nama-nama yang Tidak Semestinya

Secara garis besar, nama-nama yang tidak dianjurkan bahkan semestinya tidak dilekatkan pada anak-anak kita adalah (a) nama-nama yang menggambarkan keadaan yang buruk, sedih, muram, suram, dan sejenisnya seperti Harb (artinya: perang), Murrah (bakhil), Kalb (anjing), (b) nama-nama setan, seperti Syaithan, Jin, al-Hibab, al-Ajda’, (c) nama-nama tokoh sejarah yang antagonistis, seperti Fir’aun, Qarun, Haman, dan seterusnya dan (d) menggunakan nama-nama Allah, seperti Robbi, (e) nama yang berisi penghambaan kepada selain Allah seperti Abdul Ka’bah (hamba Ka’bah), Abdul ‘Uzza (hamba berhala Uzza), Abdul Hajar (hamba batu), dst.

Nama-nama buruk sering kita dengar digunakan dalam bahasa lain, seperti bahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa Inggris, dst. Sepadan dengan nama-nama buruk tadi adalah nama yang ada di Indonesia yang menggambarkan benda atau keadaan buruk, seperti Tlethong, Pauwan, Edi Dosa, Miskina, dan sebagainya. Nama Jennie atau Jennia kurang disarankan karena berasal dari kata Jin. Dikarenakan buruknya nama Harb (artinya: perang), Murrah (artinya: pahit atau bakhil), maka Rasulullah sampai menunjukkan ketidaksukaannya bila mereka bersentuhan dengan pemerahan susu.

Selain itu Rasulullah Muhammad juga mengungkapkan bahwa nama-nama Allah tidak bisa langsung dipergunakan oleh manusia, seperti sulthanus salathin (artinya: raja diraja), Yasar (yang memudahkan), Rabbah (Tuhannya), Najih (yang menyelamatkan), Aflah (yang memenangkan), Ya’la (yang tinggi), Nafi’ (yang memberi manfaat), Barakah (yang memberi kebahagiaan), Barrah (yang menyucikan). Tentu Allah tidak menghendaki penggunaan nama-Nya seperti malikul mulki (raja diraja), al-Shamad (tempat bergantung segala sesuatu), al-Khaliq (yang menciptakan), al-Raziq (yang memberi rizki), dan sejenisnya. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya nama yang paling rendah di mata Allah adalah orang yang mempunyai sebutan raja diraja.”


Dampak Sosial-Psikologis Penggunaan Nama-nama

Nama yang dimiliki seseorang adalah ungkapan yang paling sering didengarnya. Salah satu yang menjadikan seseorang bertindak atau berperilaku adalah stimulasi yang diterimanya. Disebutnya nama kita oleh orang lain sama dengan hadirnya stimulasi kepada kita. Bila seseorang memiliki nama yang baik, maka ia menerima stimulasi yang baik secara terus menerus dan pada gilirannya mempersepsi dirinya sebagai seseorang yang baik, memiliki sifat-sifat kebaikan, atau tertuntut untuk bertindak positif. Sebaliknya, seseorang dengan nama yang buruk, seperti harb (perang) atau murrah (bakhil), maka ia selalu menerima stimulasi yang buruk. Pada gilirannya dapat memandang atau mempersepsi dirinya sebagai orang yang buruk atau memiliki sifat-sifat buruk. Boleh dikatakan bahwa konsep diri seseorang (yaitu bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri) juga dipengaruhi oleh nama dirinya dan pada gilirannya akan menghayati dirinya sebagai si jago bertengkar atau si cethil.

Repetisi atau pengulangan memberikan pengaruh yang relatif menetap dalam diri seseorang. Repetisi memiliki kekuatan memantapkan stimulasi yang ada dalam diri seseorang. Lebih-lebih bila stimulasi itu dihayati, direnungkan, dan distigmakan pada diri sendiri, maka seseorang akan menilai dirinya sangat buruk. Dikarenakan adanya faktor repetisi atau pengulangan, maka menguatlah stigma itu dalam diri seseorang.

Sebagaimana disebutkan di atas, nama juga dapat menuntut seseorang untuk sebaik namanya. Tuntutan ini bisa memotivasi seseorang, tapi juga dapat membebani. Sebagai misal, ketika penulis mengetahui Nashori artinya adalah yang cenderung memberi pertolongan, maka penulis memiliki semangat untuk mewujudkan nama tersebut dalam kerangka berpikir maupun berperilaku. Namun, ada kalanya seseorang yang memiliki nama baik seperti Bagus (padahal wajahnya jelek) juga bisa menjadi terbebani.

Secara spiritual, nama yang melekat pada diri seseorang juga mengandung ungkapan harapan, bahkan doa. Nama yang baik berisi doa yang baik. Nama yang buruk berisi doa yang buruk. Kata Abu Umar, Nabi pernah bersabda bahwa bencana itu terletak di ujung lidah. Mari kita dengarkan apa yang pernah terjadi berkaitan dengan nama ini.

“Siapa namamu?” tanya Umar.
Orang itu menjawab, “Jamrah (bara api).
Umar bertanya lagi, “Siapa nama ayahmu?”
Orang menjawab, “Syihab (cahaya api).”
Umar bertanya, “Dari garis keturunan siapa?”
Orang itu menjawab, “Al-Hirqah (kebakaran).
Umar bertanya, “ Di mana daerahmu?”
Orang itu menjawab, “Di Harratun-Nar (neraka yang panas)!
Umar bertanya, “Di manakah tempat tinggalmu?”
Orang itu menjawab, Di Dzatu Lazha (yang menyala-nyala).”
Akhirnya Umar berkata, “Pulanglah! Sesungguhnya tempat tinggalmu saat ini telah terbakar.”
Setelah orang itu pulang, ternyata ucapan Umar menjadi kenyataan: keluarga dan rumahnya telah binasa.

Mengomentari kenyataan ini, Ibnu Qayyim al-Jauziyah berpendapat bahwa kejadian ini memang sukar diterima nalar orang yang tidak dapat memahaminya. Kejadian-kejadian ini boleh jadi di luar kemampuan akal manusia, namun pada dasarnya ia adalah keniscayaan hukum alam. Jika suatu sabda diungkapkan oleh orang yang memiliki kekuatan doa, maka ia memiliki kekuatan untuk mempengaruhi peristiwa.

Penggantian Nama

Dalam kisah diungkapkan bahwa Rasulullah seringkali mengganti nama sahabat-sahabatnya, dari Barrah menjadi Zainab, Ashram menjadi Zar’ah, Harb menjadi Salim, al-Mudhthaji’ menjadi al-Munbaits, ‘Ardh menjadi Afratu Khudhrin, Sya’budh-Dhalalah menjadi Sya’bul hadi. Ali bin Abi Thalib pernah hendak memberi nama anaknya Harb (perang), tapi Rasulullah mengubahnya menjadi Hasan, yang kedua Husain, yang ketiga Muhsin.

Perubahan nama dimaksudkan agar kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Sangat indah bila kata yang diucapkan orang lain kepada kita adalah kata-kata yang baik. Bila nama kita baik seperti Hasan, maka setiap orang berkata kepada kita dia telah melontarkan kebaikan, bahkan doa kebaikan kepada kita. menunjukkan bahwa doa efektif mengubah keadaan orang lain, di antaranya menyembuhkan orang lain). Doa itu akan benar-benar memiliki kekuatan atau berbobot bila diucapkan oleh orang yang berbobot. Juga perlu diingat, kumpulan dari ungkapan doa yang ringan dari banyak orang bisa menghasilkan bobot tersendiri.

Bila perubahan nama tidak dilakukan dikhawatirkan, maka bisa jadi keadaan seseorang akan mirip dengan nama yang disandangnya. Sebagai ilustrasi, mari kita perhatikan apa yang dikatakan Sa’id ibnu al-Musyayyab, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah bertanya: “Siapa namamu?”
Orang tersebut menjawab: “Hazn (sedih, tanah kering).”

Kata Rasulullah, “ Namamu adalah Sahl/Sahal (mudah, tanah subur).”
“Aku tidak akan mengubah nama yang akan diberikan ayahku,” kata orang tersebut.
“Ternyata kesedihan selalu ada dalam keluarga kami,” kata Ibnul Musyayyab.

Pada zaman dahulu bangsa kita menyukai nama-nama binatang, seperti Gajah Mada, Kebo Ijo, Lembu Sora, dan seterusnya. Penggunaan nama-nama binatang itu kini sudah tidak populer lagi, walau masih ada satu dua orang yang menggunakannya. Salah seorang artis Indonesia bernama Lembu.

Sumber :http://www.pikirdong.org/psikologi-islami/sos11mnba.php

0 comments: